TRIPTIPS

Perbedaan Social Distancing dengan Physical Distancing, Mau Tau?

Trippers.id – Senin lalu (23/3), pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk mengubah istilah social distancing menjadi physical distancing. Hal ini diutarakan oleh Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam).

Perubahan istilah ini juga terjadi secara global di banyak negara, sebagai upaya untuk menekan jumlah penyebaran virus corona, yang menyebabkan penyakit COVID-19. Lantas, apa perbedaan social distancing dengan physical distancing? Apakah ada pengaruh jika istilah ini diubah?

1. Physical distancing dipakai karena kita hanya perlu terpisah secara fisik

Menurut Dr. Jeff Kwong, spesialis penyakit menular sekaligus profesor dari University of Toronto menyebut bahwa istilah physical distancing harus benar-benar dipakai. Sebab, sejatinya kita hanya perlu terpisah secara fisik.

Kita masih perlu bersosialisasi dan bersatu dengan cara virtual, ungkapnya di laman Global News. Menurut Chrystia Freeland, Wakil Perdana Menteri Kanada, menjaga jarak secara fisik berarti kita harus tinggal di rumah, kecuali untuk bekerja atau membeli bahan makanan. Isolasi diri dari orang lain adalah cara untuk membatasi penyebaran COVID-19.

2. Sementara, social distancing bisa menyebabkan kita terisolasi dan terasing secara sosial

Di sisi lain, tidak semua orang mengerti apa artinya social distancing. Mereka khawatir, istilah ini bisa menyebabkan isolasi dan keterasingan sosial, terang Dr. Jeff Kwong di laman Global News.

Padahal, social distancing tidak bermaksud untuk membatasi interaksi sosial antar manusia, hanya membatasi jarak fisik di antara mereka. Gunakan teknologi yang ada saat ini untuk berkomunikasi dengan orang lain ketika sedang mengisolasi diri.

3. Seperti apa physical distancing yang baik?

Menurut Dr Arthur L. Caplan di laman The Guardian, physical distancing bisa dilakukan dengan tetap berada di rumah, jauhi orang lain sebanyak mungkin dan keluar rumah hanya untuk membeli bahan makanan serta obat-obatan. Tidak disarankan untuk berjabat tangan serta melakukan transaksi dengan uang tunai.

Sementara, etika physical distancing di ruang publik adalah memberi jarak 2 meter antar individu, batuk atau bersin di siku atau ditutup masker, tidak menyentuh muka serta sering mencuci tangan, jelas laman Global News. Tidak terlalu sulit, kan?

4. Semakin banyak pasien berjatuhan jika physical distancing tidak dilakukan

Menurut Dr. Jeff Kwong, jarak fisik sangat penting untuk mencegah penyebaran COVID-19. Apabila banyak orang tidak melakukan physical distancing, maka kasus positif COVID-19 akan semakin banyak dari hari ke hari, terangnya di laman Global News.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, rumah sakit akan dipenuhi oleh pasien dan kemungkinan besar mereka akan tewas. Sebab, tidak ada tempat tidur, ruangan dan ventilator yang cukup untuk semua orang. Can you imagine?

5. Semua orang harus berpartisipasi melakukan physical distancing

Pandemi COVID-19 bisa berakhir jika kita bahu-membahu dan bekerja sama, termasuk menerapkan physical distancing dalam kehidupan kita. Menurut Dr. Suzanne Sicchia, profesor dari Interdisciplinary Centre for Health and Society, University of Toronto Scarborough, semua orang bisa ambil bagian dalam berperang dengan COVID-19.

#LawanCorona #JagaKesehatan #JanganPanik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *