Uncategorized

5 Hal yang Gak Boleh Kamu Lakukan Sebagai Pendaki Pemula

Trippers.id – Meski terbilang sebagai aktivitas outdoor penuh risiko, nyatanya kegiatan mendaki gunung masih menjadi primadona bagi para pejalan yang mengaku penyuka alam. Berjalan berkilo-kilo meter melewati tanjakan terjal sembari membawa beban di pundak bukanlah penghalang untuk melangkah hingga ke puncak.

Tapi, mirisnya masih banyak pendaki pemula yang kerap melakukan kesalahan di pendakian perdananya. Rata-rata mereka kurang memedulikan keselamatan diri atau melakukan kegiatan naik gunung karena ikut-ikutan tren saja.

Nah, berikut lima kesalahan pendaki pemula yang sama sekali gak boleh kamu tiru jika kamu berniat menjajal olahraga ekstrem ini. Catat baik-baik, ya!

1. Memakai Celana Jeans

Foto : bogor.tribunnews.com

Ada beberapa alasan kenapa kamu haram mengenakan celana jeans saat mendaki gunung. Pertama, karena bahan denim merupakan jenis kain yang cukup berat. Ini bakal menambah bebanmu saat mendaki.

Kedua, kain denim cukup mudah menyerap air, namun sangat lama untuk kering. Kebayang kan gimana repotnya kalau terkena hujan? Selain gampang menyerap air, kain jeans juga mudah menyerap hawa dingin. Sangat berbahaya untuk tubuh karena bisa menyebabkan hipotermia.

Ketiga, karena bahannya gak fleksibel, celana jeans gak bisa memberi kakimu ruang untuk bergerak secara leluasa. Alih-alih merasa nyaman, kamu justru bisa mengalami iritasi pada sendi atau otot. Pengharaman memakai jeans saat mendaki gunung gak hanya berlaku pada celana saja, tapi juga atasan yang kamu pakai, seperti jaket denim.

2. Memakai Sandal Gunung

Foto : vphinemo.com

Kamu boleh pakai sandal gunung, tapi saat sudah sampai camp site, ya. Di perjalanan pendakian, sangat disarankan menggunakan sepatu gunung yang safety karena bisa menutup seluruh bagian kakimu. Hal tersebut dapat menghindarkan kedua kaki dari lecet-lecet karena akar pohon atau tumbuhan berduri, termasuk binatang seperti pacet dan ular.

3. Tidak Menggunakan Trekking Pole

Foto : www.superadventure.co.id

Trekking pole bakal sangat membantumu ketika harus melewati medan pendakian yang sulit, seperti tanjakan terjal, jalur yang licin, sungai, termasuk saat di jalur yang menurun. Adanya trekking pole bisa mengurangi beban kerja lutut dan kaki karena tangan turut digunakan sebagai tumpuan saat berjalan.

Daripada ribet mencari batang pohon di sepanjang jalur untuk kamu jadikan trekking pole, sebaiknya kamu sudah menyiapkan alat tersebut dari rumah. Selain kurang safety saat menjadikan batang pohon sebagai trekking pole, kamu bisa merusak tatanan alam saat memotong dahan pohon di jalur pendakian.

4. Cara Packing di Tas Carrier yang Salah

Foto : mounture.com

Buat kamu yang masih awam, terdapat seni dalam packing barang-barang di dalam tas carrier, lho. Jadi, kamu gak bisa sembarang menumpuk barang di dalam tas pendakian karena bisa mempengaruhi beban di pundak.

Secara ringkas, kamu wajib menempatkan benda dengan beban berat, seperti beras, air, nesting, dan kompor, di bagian dekat punggung dan bagian setengah tas carrier ke atas. Hal ini bertujuan agar beban dipusatkan pada pundak, bukan pada pinggang dan paha.

Sedangkan bagian bawah tas carrier adalah ruang untuk menyimpan benda yang lebih ringan, seperti pakaian ganti dan sleeping bag. Benda-benda yang sekiranya bakal sering dipakai saat kondisi urgent selama pendakian seperti camilan, mantel, atau flysheet, bisa kamu letakkan di bagian paling atas tas carrier.

Khusus untuk matras, trik packing-nya adalah digulung melingkar di dalam tas carrier. Selain bisa lebih melindungi barang bawaanmu dari air hujan, melingkari bagian dalam tas carrier dengan matras juga bisa membentuk tas carrier-mu lebih rapi dan tegak.

5. Tidak Aware Tentang Serangan Hipotermia

Foto : www.hipwee.com

Hipotermia adalah kondisi di mana tubuh kamu sudah gak mampu lagi mengatasi tekanan suhu dingin. Penting bagi kamu untuk aware dengan serangan hipotermia karena kadang gejalanya gak kamu sadari.

Sebelum mendaki, pastikan dirimu sudah dibekali pengetahuan tentang ciri-ciri seseorang yang terkena hipotermia, gimana cara mengatasinya, termasuk juga cara untuk mencegah hipotermia terjadi. Kalau memang bisa dicegah, kenapa harus diobati?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *